Make your own free website on Tripod.com

Perjalanan Hidup Murid Kristus

MEMBERITAKAN, MENGAJAR, BERSAKSI SAMBIL TETAP BERJALAN MENUJU KE GARIS AKHIR

( Warta Sepekan GBI Bethany, 29 Agustus 1999 )

 

 

Seorang murid harus mencontoh teladan gurunya.

Murid Kristus harus mencontoh Yesus.

Yesus sendiri sewaktu masih di bumi sebagai manusia 100% telah memberikan contoh yang sempurna bagaimana umat tebusan-Nya harus hidup sebagai murid-murid-Nya.

Kita tidak boleh mencontoh orang lain, termasuk nabi-nabi dan rasul-rasul Allah yang ada di Alkitab sekalipun, agar bisa sempurna seperti Kristus. Tokoh-tokoh yang disebutkan di Alkitab itu semuanya hanya memberikan sebagian kecil contoh kehidupan yang bisa kita contoh. Keseluruhan contoh kehidupan itu sempurna sudah Yesus berikan selama kehidupan-Nya di bumi.

Kehidupan Kristus inilah yang harus menjadi teladan bagi murid-murid Kristus, kita semua. Rasul Paulus sendiri, yang diakui sebagai rasul terbesar dan banyak bisa memberikan contoh sebagai murid Kristus, tetap tidak bisa memberikan contoh sesempurna Kristus. Tetapi melalui pengajaran Pauluslah banyak contoh-contoh Kristus yang diperjelas sehingga para murid menjadi lebih mengerti dan mengetahui bagaimana melakukannya. Hubungan antara Kristus dan Paulus bisa diumpamakan sebagai berikut: Kristus itu adalah Tokoh yang melakukan sedangkan Paulus adalah yang memberi penjelasan atau mengartikannya.

Sebagai murid Kristus apa yang harus, atau bagaimana kita harus menjalani kehidupan kita?

Dalam menjalani kehidupan sebagai murid Kristus Paulus dengan jelas menunjukkannya kepada para penatua di Efesus sebagai berikut,

'Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku.'

'Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus.'

'Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku.'

'Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.'

(Kisah 20:18-24)

Kita bisa melihat pengajaran apa yang sedang Paulus berikan kepada para penatua itu: Bagaimana kalian hidup sebagai murid-murid Kristus.

Ucapan Paulus ini mempunyai pengertian yang sama dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Yesus saat itu sambil mengajar dari desa ke desa dan menyembuhkan orang sakit, Dia terus berjalan ke Yerusalem, karena garis akhir yang Bapa tetapkan bagi Yesus ialah mati disalib di Bukit Tengkorak (Kalvari).

Mari sekarang kita simak agak lebih jauh apa yang sedang Paulus katakan pada saat itu dan sekaligus untuk melihat apakah sekarang ini, kalau memang kita sebagai murid-murid Kristus, sudah sesuai dengan contoh yang Kristus dan Paulus berikan.

Paulus mengatakan, 'dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan'.

Kerendahan hati itulah yang melekat di Yesus pada waktu pelayanan-Nya di bumi. Paulus melakukan yang sama. Dan kita seharusnya juga melakukan yang sama, kalau memang kita adalah murid Kristus seperti Paulus.

Paulus melanjutkan kata-katanya, 'Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku.'

Bagaimana dengan pelayanan kita? Apakah kita juga sudah seperti Paulus? Perlu ditekankan di sini bahwa cucuran airmata Paulus itu bukan karena tangisan karena mengasihani diri-sendiri, atau tangisan karena diperlakukan tidak adil, atau karena emosinya 'diobok-obok' pada waktu meng-'konseling' orang. Tidak, Paulus menangis bukan karena kesakitan, tetapi karena rasa belas kasihan kepada jiwa-jiwa yang terhilang atau belum bertobat.

Dia akan dibunuh bukan karena melakukan kesalahan atau kesombongan rohaninya, tetapi karena dia tidak mau kompromi dengan mereka dalam hal kebenaran!

Inilah ciri kuat dari murid Kristus.

Walaupun mendapat hambatan, intimidasi, tekanan bahkan ancaman untuk dibunuh, Paulus tetap tidak melalaikan tugas pelayananya kepada sesamanya.

Paulus melanjutkan, 'Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus.'

Ada tiga hal yang melekat dalam kehidupan murid Kristus: memberitakan, mengajarkan dan bersaksi bagi Kristus.

Memberitakan itu menyampaikan berita baru, berita hangat, termasuk pewahyuan baru dari Tuhan. Memberitakan kabar baik.

Karena Paulus sedang berbicara kepada para penatua, kabar baiknya tentu saja bukan 'Percayalah kepada Yesus maka kamu akan selamat' atau yang sejenisnya. Bukan. Kabar baiknya adalah hal-hal yang Tuhan Yesus suruh dia sampaikan kepada mereka, untuk menguatkan, untuk menghibur, untuk menegur, atau untuk hal-hal kebenaran yang lain.

Di samping menyampaikan berita, Paulus juga mengajar.

Mengajar artinya menjadikan orang lain bisa melakukan. Misalnya, mengajar bagaimana untuk mengadakan persekutuan pribadi dengan Tuhan; mengajar bagaimana menyalurkan kuasa Roh Kudus pada saat pelayanan; mengajar bagaimana berbicara bagi Allah saat berkotbah; mengajar bagaimana bersaksi dengan dibimbing oleh Roh Kudus, dan lain-lain.

Tentunya dalam mengajar ini, Paulus sama seperti Kristus mengajar para murid-murid-Nya. Yesus, dan Paulus, tidak pernah menggurui dalam pengajarannya. Menggurui itu artinya hanya banyak memberikan instruksi dan menuntut untuk melakuan ini atau itu. Mereka memberi contoh langsung tetapi bukan demontrasi atau pamer. Mereka mengajar berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing.

Paulus, dan juga Yesus, melakukan semua ini dimana ada kesempatan. Paulus senantiasa bersaksi baik kepada orang Yahudi maupun orang Yunani. Kesaksian Paulus ini, juga seharusnya setiap kesaksian kita, mempunyai tujuan agar mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Paulus mengatakan lebih lanjut, 'Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku.'

Kita perhatikan di sini, bagaimana Paulus sedang mengungkapkan pengalaman pribadinya dengan Roh Kudus. Ini menunjukkan bagaimana kehidupan Paulus itu memang hidup oleh Roh dan hidup dipimpin oleh Roh.

Satu hal yang sangat penting yang tersirat di kata-kata Paulus ini, dan juga yang pernah dilakukan dan diucapkan oleh Yesus, dia sedang pergi untuk memenuhi panggilan pelayannya. Setiap dari kita, murid Kristus, pasti masing-masing memiliki panggilan pelayanan. Paulus menyebutnya sebagai garis akhir. Ini yang disebut dengan visi pribadi yang telah Tuhan Yesus tetapkan kepada kita masing-masing, bahkan sebelum dunia dijadikan.

Setiap kita, siapapun dan apapun pelayanan kita, harus memiliki visi pribadi ini. Kalau belum jelas, minta agar Roh Kudus menunjukkannya. Dan apapun pelayanan yang kita jalankan saat ini, jangan lupa untuk terus berjalan menuju ke garis-garis akhir yang memang sudah Tuhan tetapkan. Dan Tuhan Yesus akan meminta pertanggung-jawaban kita untuk ini. Kalau tidak, peringatan Tuhan Yesus yang ada di Matius 7:21 bisa jadi peringatan juga untuk kita.

Komitmen Paulus, juga Yesus walaupun tidak diucapkan, dengan tegas dinyatakan dalam kata-katanya, 'Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.'

Bagaimana dengan komitmen kita?

Kita harus tahu dan mengerti apa yang sedang Paulus ajarkan disini. Dan apa yang sebenarnya Tuhan Yesus tuntut dari kita. Kalau tidak akan merupakan bencana bagi kita. Apapun yang sekarang kita layani, dimanapun kita sekarang berada, berapapun harga yang harus kita bayar, sekaranglah saatnya kita minta kepada Roh Kudus untuk menunjukkan garis-garis akhir kita, visi pribadi kita. Kalau sudah ditunjukkan jangan segan-segan untuk mengubah jalan kehidupan kita kalau memang ada di jalan yang salah.

Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.

 

 

 

ke renungan yang lain