Make your own free website on Tripod.com

Doa Puasa nasional 40 hari

PIMPIN, KAWAL DAN SERTAI BANGSAMU MEMASUKI ERA MILENIUM KE-3 (1)

( Warta Sepekan GBI Bethany, 05 Desember 1999 )

 

 

Ya, pasukan doa Tuhan!

Siapa pasukan doa Tuhan itu?!

Mereka itu bukan yang mengaku sebagai orang Kristen atau keturunan orang Kristen.
Mereka itu bukan yang mengaku telah lahir baru atau yang sudah dibaptis selam.
Mereka itu juga bukan yang merasa telah berbahasa Roh.
Mereka itu juga bukan yang telah melayani pekerjaan Tuhan atau yang sudah memimpin jemaat atau yang mengaku sebagai pendoa syafaat!

Yang dimaksud dengan pasukan doa itu adalah mereka, umat yang mengasihi Tuhan Yesus, yang mau mengambil bagian untuk memimpin dan mengawal serta menyertai bangsa dengan doa-doanya. Tidak peduli berapa lama mereka sudah menjadi Kristen . Bahkan mereka yang tidak atau belum pernah terlibat dalam pelayananpun, para jemaat, bisa saja menjadi pasukan doa Tuhan, setelah melewati proses-proses tertentu. Proses yang didasari bukan oleh kemampuan manusia tetapi oleh kasih karunia atau anugerah Tuhan saja.

Pertama-tama seseorang itu harus lahir baru, yaitu peristiwa pertobatan pribadi dengan menerima dan mengakui bahwa Yesus Kristus itu adalah Tuhan dan Juruselamatnya.

Dengan kelahiran barunya ini, yang bukan karena pekerjaan manusia tetapi pekerjaan Roh Kudus, orang yang bersangkutan akan terus melangkahkan kaki imannya untuk memberikan diri dibaptis selam dan baptisan Roh Kudus.

Sejak saat itulah dia merupakan ciptaan baru yang 'syah' (berdasarkan pengakuan iman kita) untuk dijadikan anak Allah dan otomatis menerima seluruh janji-janji Tuhan yang telah ditetapkan.

Yang kedua, orang yang sudah lahir baru itu, bila perlu bisa dibantu oleh saudara seimannya yang sudah berpengalaman, mulai melakukan, dengan kasih karunia, hukum yang terutama, yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Untuk ini seseorang perlu terhisap (menjadi anggota) di gereja lokal yang bertumbuh dan yang mengerti bagaimana untuk mengajar dan menumbuhkan jemaat Tuhan dengan benar.

Di gereja kita, Bethany, ada pengajaran khusus Sekolah Orientasi Melayani (SOM) dan sistem penggembalaan jemaat yang berupa kelompok sel family altar untuk mengajar dan menumbuhkan jemaat. Melalui kedua program ini gereja akan menjadikan jemaat Tuhan yang dipercayakan untuk bertumbuh sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Yang ketiga, menjadikan diri menjadi rumah doa.

Apa yang dimaksud dengan rumah doa itu ?

Rumah doa adalah umat Tuhan yang telah menyerah total kepada Roh Kudus untuk
menjadikan dirinya menjadi rumah doa, yaitu tempat dimana Roh Kudus bisa memakainya, kapanpun Dia maui, untuk berdoa.

Dalam tingkatan rumah doa ini, umat Tuhan sudah tidak berdoa hanya untuk doa darurat pada saat menghadapi situasi darurat saja, dan juga tidak berdoa pas-pas-an, doa yang cukup hanya untuk melakukan perjalanan rohani satu hari, dan tidak berdoa 'egois', doa yang hanya untuk kepentingan diri-sendiri.

Dalam tingkatan rumah doa ini jemaat sudah mulai berdoa syafaat, doa untuk orang-orang yang mungkin tidak ada hubungan atau keterkaitan emosionil dengannya. Mereka mulai berdoa untuk orang-orang lain yang ada di sekitarnya, yang imannya juga berbeda; berdoa untuk lingkungannya selain juga berdoa untuk gereja dan para pemimpin rohaninya serta segala orang kudus Tuhan. Dia siap untuk mendoakan siapa saja yang Roh Kudus ingatkan atau tunjukkan kepadanya, kapanpun dan dimanapun dia berada. Mereka bersafaat untuk memberkati mereka-mereka, bahkan yang memusuhinya.

Mereka berdoa untuk keselamatan jiwa mereka dan minta agar Tuhan mengirimkann para penuai untuk menuai mereka.

Pada tingkatan ini umat Tuhan sudah tidak lagi memandang doa itu sebagai beban, tetapi sudah menjadi suatu kesukaan. Mereka punya kerinduan untuk bisa bersyafaat setiap saat.

Yang keempat adalah pasukan doa, yaitu kelompok umat Tuhan yang sudah melangkah lebih jauh dari tingkatan rumah doa. Mereka sudah menaikkan doa-doa peperangan untuk merebut dan menjarah jiwa-jiwa yang Tuhan tunjukkan ada dalam keterikatan yang ada di sekitarnya.

Dengan semangat roh yang berapi-api mereka berani untuk mendatangi sarang-sarang kuasa kegelapan yang menawan umat manusia serta memporak-porandakan setiap taktik, muslihat dan strategi musuh, dengan cara dan kuasa Roh Kudus.

Mereka berani melakukan ini, dan berhasil, karena mereka sudah tahu siapa sebenarnya mereka di hadapan Tuhan dan di hadapan Iblis. Mereka akan terus menerobos maju, bersama Roh Kudus, sehingga Roh Kudus dengan bebas bisa menyatakan kemuliaan Tuhan melalui mereka.

Tetapi ingat, tidak ada pasukan doa yang langsung lahir dalam semalam.

Ada suatu proses yang harus dilewati oleh setiap pasukan doa: lahir baru, mengasihi Tuhan dan sesama, menjadi rumah doa dan kakhirnya menjadi pasukan doa.

Setiap proses itu tidak ada ada kaitannya dengan waktu manusia. Setiap proses terjadi berdasarkan waktu Tuhan. Seseorang yang baru saja lahir baru bisa saja Tuhan promosikan langsung menjadi pasukan doa yang militan karena Tuhan sudah mengetahui hatinya.

Jadi bagi kita semua, siapapun kita, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pasukan doa, dan pemimpin. Mari kita berlomba untuk ini, kata Paulus, tetapi bukan dengan kekuatan kedagingan kita.

Kita semua diminta untuk memimpin, mengawal dan menyertai bangsa kita.

Siapapun kita dan dimana dan bagaimanapun status rohani kita saat ini, Tuhan sudah memberi kesempatan untuk ambil bagian.

Kalau kita 'merasa' tingkatan kita belum di pasukan doa, kita akan menyertai bangsa kita sambil terus meningkatkan diri untuk menjadi pasukan doa.

Semua kita, yang mau mengambil bagian, Tuhan sudah beri tempat dan kesempatan. Manfaatkan itu!

Mengapa kita berpuasa 40 hari?!

Karena Tuhan memberi kesempatan untuk mengawali, atau memipin, bangsa kita, yang mayoritas belum mengenal Yesus sebagai Tuhan.

Kita berpuasa lima hari sebelum dan mengakhirinya lima hari sesudah mereka berpuasa.

Ini menunjukkan, selain kita mengawal mereka yang kita kasihi, kita juga menyertainya, sehingga kita bisa berjalan bersama-sama untuk menuju ke Kerajaan Allah yang penuh dengan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Ini menunjukkan bahwa kita bukan hanya mengatakan bahwa mereka adalah sebangsa, tetapi juga menunjukkan bahwa kita mengasihi mereka bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan.

Lalu, apa saja dan bagaimana kita harus bertindak pada saat memimpin, mengawal atau menyertai mereka?

 

(bersambung)


ke renungan yang lain