Make your own free website on Tripod.com

Era Gereja Akhir Jaman - Penyataan Kemuliaan Tuhan

MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENERIMA KEMULIAAN TUHAN

( Warta Sepekan GBI Bethany, 03 Oktober 1999 )

Ringkasan kotbah Pdt Niko Njotorahardjo di Senayan pada 5 September 1999

 

'Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.'

(Yohanes 17:22).

Ayat itu berbicara tentang penuaian jiwa. Yesus telah memberikan kemuliaan-Nya kepada kita semua supaya kita menjadi satu, tidak terpecah-pecah, supaya dengan itu dunia menjadi tahu.

Waktu kita memasuki tahun 1999 Tuhan berpesan agar kita mencari perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Kalau kita mencari perkara yang di atas maka yang di bumi Dia sendiri yang akan membereskannya.

Tiga perkara di atas yang dimaksud ialah tahun ini merupakan tahun penuaian jiwa besar-besaran, tahun ini merupakan tahun goncangan, dan tahun ini juga merupakan tahun berjaga-jaga dan berdoa.

Belakangan ini Tuhan berbicara tentang kemuliaan. Dengan kemuliaan Tuhan yang memenuhi gereja-Nya akan terjadi penuaian besar-besaran. Saat ini Tuhan sedang membawa gereja-Nya untuk menjadi gereja yang akan dipenuhi oleh kemuliaan Tuhan sendiri. Gereja akan menjadi unity, dan dengan itu dunia akan melihatnya.

Pada waktu Salomo mentahbiskan Bait Suci yang dibangunnya di memberikan persembahan yang tidak terbilang banyaknya. Setelah persembahan diikuti puji-pujian orang Lewi. Dan turunlah kemuliaan Tuhan sehingga mereka tidak tahan untuk berdiri.

Setelah Salomo berdoa maka turunlah api kemuliaan Tuhan membakar habis semua persembahan sehingga imam-imam tidak bisa masuk karena tempat itu dipenuhi dengan awan kemuliaan Tuhan.

Melalui pola pentahbisan Bait Suci Salomo tersebut Tuhan menunjukkan suatu pola agar gereja-Nya, kita semua, bisa dipenuhi oleh awan kemuliaan Tuhan. Untuk ini pertama-tama kita harus menjadi rumah persembahan. Tubuh kita, hidup kita,
keluarga kita, gereja kita, harus kita persembahkan sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Kedua, kita harus menjadi rumah doa. Masing-masing kita, keluarga kita, gereja kita, harus menjadi rumah-rumah doa.

Kalau ini sudah kita lakukan, saya percaya, semua suku bangsa, kaum dan bahasa akan datang menyembah Tuhan Yesus Kristus.

Pada tanggal 27 September kami, saya, pak Arifin dan pak Alex, diundang sebagai pembicara di depan utusan 100 bangsa dalam acara Feast of Tabernacle (pesta perayaan Pondok Daun) di Yerusalem. Kalau tidak salah ini baru yang pertama kali Indonesia diminta untuk berbicara di acara dunia ini. Kami Tuhan suruh untuk membagikan api: api doa, api pujian, api pendamaian, api untuk mengampuni satu dengan yang lain, dan api penginjilan. Kami akan datang di acara itu. Tuhan sedang memakai Indonesia untuk membawa api ke bangsa-bangsa!

Agar kita, gereja kita, bisa menyatakan kemuliaan Tuhan maka harus dipenuhi dengan Roh Kudus. Efesus 5:18-21 memberikan petunjuk kepada bagaimana ciri-ciri orang, atau gereja, yang dipenuhi dengan Roh Kudus. Dia akan berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Dia akan bernyanyi dan bersorak-sorak bagi Tuhan dengan segenap hati. Dia akan mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. Dia akan merendahkan dirinya seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Kalau kita perhatikan di ayat-ayat tersebut, semuanya berkaitan dengan kata-kata yang keluar dari mulut kita. Kita dan gereja kita diberkati atau tidak tergantung dari perkataan yang keluar dari mulut kita.

Yohanes Pembaptis pernah mengatakan biarlah Yesus menjadi semakin besar dan dia menjadi semakin kecil.

Kita harus bisa pula mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis itu. Kalau kita mau, dan berserah kepada Tuhan, Dia sendiri yang akan memotong kita. Ke'ego'an atau mementingkan diri-sendirilah yang seringkali sebagai sumber perpecahan. Sebaiknya mulai sekarang kita semua berkomitmen, berjanji di depan Tuhan, untuk menyatakan semua 'punya-ku' kita jadikan 'punya-Ku'; semuanya kepunyaan Tuhan Yesus Kristus.

Iblis paling tidak suka kalau anak-anak Tuhan bersatu. Dia akan berusaha untuk menghalang-halangi terjadinya kesatuan ini, sebab kalau ada unity, akan banyak terjadi penuaian besar-besaran.

Kemuliaan yang diucapkan dalam doa Tuhan Yesus di Yohanes 17 dalam bahasa Yunaninya 'doxa', yang berarti kemuliaan Tuhan, yang adalah Aku, dan segala yang Kumiliki, diberikan kepada murid-murid-Nya, diberikan kepada gereja-gereja-Nya.

Di 2 Korintus 8:9 Paulus mengatakan, 'karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.'

Tubuh kita adalah bait Allah.

Di Perjanjian Lama dikenal ada tiga Bait Allah: Tabernakel Musa, Tabernakel Daud dan Bait Suci Solomo. Bait-Bait Allah ini masing-masing memiliki ciri atau karakter khusus, karakter mana mencerminkan situasi dan kondisi dan kebutuhan umat yang
beribadah pada saat itu. Karakter-karakter Bait-Bait Allah di Perjanjian Lama ini juga masih tampak melalui karakter-karakter gereja saat ini.

Tabernakel Musa itu berupa tenda atau kemah sederhana yang gampang untuk dibongkar-pasang karena bangsa Israel pada saat itu hidup di padang gurun yang selalu berpindah-pindah. Mereka saat itu hidupnya biasa-biasa, bahkan sekedar untuk hidup saja karena makan dan minum pun Tuhan yang langsung memberikannya dari sorga. Ibadah yang ada di tabernakel ini penuh dengan doa, prihatin, dan hanya sedikit nyanyian. Gambaran gereja yang beribadah secara liturgis yang kaku.

Tabernakel Daud dibangun pada saat bangsa Israel sudah masuk Tanah Perjanjian dan Daud sebagai raja yang kaya. Tabernakel ini tidak dipindah-pindah lagi. Ibadah di tabernakel ini penuh dengan puji-pujian. Muncul pengajaran kemakmuran
(prosperity), yang pada awalnya, saat di Indonesia diperkenalkan salah satunya melalui gereja kita, mendapat tantangan gereja-gereja lain.

Bait Suci Salomo itu dirancang oleh Daud tetapi pembangunannya dilakukan oleh Salomo, anaknya. Salomo itu raja yang sangat kaya, lebih kaya dari Daud. Di Bait Suci ini ada penggabungan antara ciri Tabernakel Musa dengan Tabernakel Daud.
Bait Suci ini memiliki 10 ciri; ciri yang menunjukkan status Salomo yang sangat kaya.

Gereja saat ini sedang Tuhan bawa ke era Bait Suci Salomo yang sangat diberkati. Diberkati dalam segala hal. Dan karena diberkati maka terjadilah apa yang disebutkan di Zakharia 8:20-23, yang menyatakan akan banyak orang dan bangsa-bangsa yang mencari Tuhan dan bertobat karena melihat Tuhan menyertai gereja-Nya. Gereja yang penuh dengan berkat-berkat yang
melimpah-limpah!

Tuhan memberkati kita, memberkati gereja-Nya, untuk menjadi berkat kepada orang dan gereja lain dan bangsa lain sehingga mereka, dunia, akan tahu. Kita akan menjadi saksi-saksi tentang berkat-berkat Tuhan kepada mereka.

Tetapi ada peringatan bagi kita yang akan diberkati dengan sangat luar biasa ini. Peringatan itu tercantum di Zakharia 8:16-17,
'Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah
mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman Tuhan.'


Perlu kita perhatikan bahwa berkat-berkat yang sudah Tuhan Yesus janjikan dan sediakan itu tidak otomatis datang ke pangkuan kita. Berkat-berkat itu harus kita dapatkan, atau kita rebut, melalui peperangan rohani.

Tuhan mengatakan kepada Yosua bahwa setiap tanah yang dia injak akan Tuhan berikan.

Kata injak dalam bahasa Ibrani disebut 'darak' yang berarti sedang melenturkan busur untuk melepaskan anak panah; yang dalam jaman modern ini, kata ini juga masih dipakai di militer Israel, artinya mengisi senjata dan menembakkan.

Diinjak itu berarti berperang; berperang dengan musuh-musuh kita yang sedang menguasai berkat-berkat itu. Dan kalau kita menang maka berkat-berkat itu akan menjadi milik kita. Menjadi jarahan kita.

Musuh kita ada tiga: dunia, kedagingan kita dan Iblis. Dan mereka semua pasti akan kita kalahkan kalau kita dalam berperang memakai pola atau cara yang Tuhan berikan. Jangan undur!

Kalau kita memasuki atau maju berperang pertama-tama kita harus datang kepada Tuhan dan bertanya bagaimana harus menghadapinya. Tanyakan apa yang Tuhan mau untuk kita lakukan? Setelah ada damai sejahtera tanyakan bagaimana pola
atau cara berperangnya?

Kalau kita sudah mengikuti pola yang Tuhan berikan maka berkat-berkat yang akan kita peroleh sangat luar biasa.

Di dalam melakukan peperangan rohani kita harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:14-18), yang antara lain disebutkan 'dalam segala doa dan permohonan ... berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus.'

Doa merupakan senjata yang Tuhan berikan kepada kita untuk menyerang, dan menang. Doa yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus. Doa ini sangat penting tetapi sering dilupakan. Berdoa untuk segala, atau semua, orang-orang kudus. Bukan untuk sebagian saja. Kalau ini tidak kita lakukan kita akan kalah! Kalau kita tidak melakukan ini sama dengan kalau kita tidak memberikan perpuluhan.

Ini bukan berarti saya membela hamba-hamba Tuhan agar mereka tidak dikritik atau dinasihati. Mereka boleh dikritik dan dinasihati, dan mereka pasti akan menerima hal itu. Tetapi semuanya itu kita lakukan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Sebelum memberikan nasihat kepada mereka, dan saya, kita bawa dalam doa, agar Tuhan sendiri yang memberikan kata-kata hikmat dan nasihat-Nya melalui kita untuk disampaikan kepada mereka. Disampaikan sesuai dengan apa yang telah Tuhan tuliskan di Alkitab. Kalu kita tidak melakukan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, kisah Simei dengan Daud bisa menimpa
kita. Simei akhirnya mati dipenggal (baca 2 Samuel 16 tentang kisah ini).


ke renungan yang lain